TITLE : BEFORE
YOU GO
CHAP : 2 of ?
CAST :
YUNJAEYOOSUMIN, JUNG JI HYE (*), AND OTHER
GENRE : LOVE, ??
(PG 15)
AUTHOR : MONTA
A.K.A .......
POV : gonta-ganti
Ini ff pertama
saya, yang dimana sayanya juga ikut masuk. Pemainnya hanya milik Tuhan dan
cerita ini karangan saya lebih tepatnya
khayalan saya.
Mian ne, chap
kemarin banyak typo(s) yang berceceran. Gomawo atas koreksinya.
Don’t like don’t
read
=Ji Hye POV=
Kudengar derap langkah kaki. Sepertinya tak hanya 2 orang
yang bakal kesini. Mungkin lebih.
BRAKKKK
Kulihat pintu dibuka kasar oleh appanya Changmin. Dan
kulihat pula eommanya Changmin menangis hebat. Prediksiku...
“Ji Hye, gomawo ne, telah membawa Changmin ke rumah sakit.”
Kudengar suara bass yang keluar dari mulut appanya Changmin.
“Kenapa dia, hiks, hiks, s-sampai hiks begini..” kata
eommanya Changmin di sela isakannya. Sedang appa dan eommaku hanya menatap
Changmin dengan pandangan iba.
“Mianhe.” Ucapku tanpa sadar.
Semua mata menoleh padaku *kecuali Changmin*
Aku hanya balas menatap mereka. Aku lalu tertunduk. Haruskah
aku melanjutkan? Haruskah? Mungkin.
“Ne, nak Ji Hye??”
“Mianhe. Ahjushi, ahjuma. Sebenarnya dari tadi siang di
sekolah ia terus mengeluh pusing. kku pikir dia hanya bermain-main padaku, jai
tak ku hiraukan. Lalu saat pulang sekolah bersamakupun, dia terus mengeluh
pusing. Aku mulai jengkel padanya. Kubentak saja dia. Karena kupikir dia hanya
bercanda. Tapi saat ia pingsan, aku baru tau kalau dia itu serius. Mianhe
ahjuma, ahjushi.” Ucapku memohon.
Eomma Changmin dan appa Changmi menatap dingin kepadaku.
Kedua orang tuaku memasang wajah khawatir.
“Tega sekali kau membiarkannya Ji Hye.” Kata eomma Changmin
dengan nada geram.
“...”
“Kau tau DIA ITU SELALU MENJAGAMU. SAAT KAU DIGANGGU PREMAN
DIA YANG MENOLONGMU. BAKHAN IA BABAK BELUR. WALAUPUN KAU BERPURA-PURA SAKIT DIA
JUSTRU KHAWATIR PADAMU. SEKARANG APA YANG KAU LAKUKAN HAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHH?”
murka eommanya Changmin padaku. aku hanya dapat seunggukan kecil. Bukan karena
dimaki eommanya Changmin. Tetapi karena aku menyesal. Sungguh aku menyesal
Changmin membiarkan kau terbaring di kasur rumah sakit.
“Sudah Min Rie, sebaiknya kau tenang. Changmin masih dalam
keadaan koma. Kau akan mengganggunya.” Terdengar suara appanya Changmin yang
menenangkan eommanya Changmin.
=Changmin POV=
“hiks,hiks”
Suara eomma. Itu suara eomma.
“Eomma jangan menangis!” teriakku sekuat tenaga.
“Apakah appa menyakitimu?” teriaku lagi.
“Tapi, aku yakin appa tak akan menyakitimu. Kenapa eomma
menangis??? Siapa yang eomma tangisi??? Siapa???” aku kembali berteriak tak
peduli suaraku akan serak atau hilang sekalipun. AKU TAK PEDULI.
Hei, aku mendengar suara bentakan seseorang. Apa yang ia
lakukan?? Ia membentak Ji Hye.
Ji Hye aku tak mendengar suaramu
lagi. Aku sedih Ji Hye. Kau dimana? Ji Hye?
Saat kau melihat
cahaya...
Apa yang kau pikirkan?
Bukan!
Itu bukan lampu atau
lilin.
Aku bahkan tak tahu
Cahaya apa itu?
Mungkin Cahaya
surga???
Apakah aku akan
kesana?
Aku tak ingin kesana.
Tapi Cahaya itu
menarikku..
Dan...
“unghhhh”
“Appa! Changmin sadar!” terdengar suara seorang wanita.
Kulihat seorang pria berlarian keluar. Dan wanita itu
menghampiriku sambil menangis lalu memeluku.
“Changmin, kau sadar Chagiya? Eomma senang.” Wanita itu
berkata sambil terisak. Aduh, gaje sekali. Siapa wanita ini aku tak mengenalnya.
Terdengar derap langkah kaki menuju kesini. Dan terlihat
sosok pria yang mengenakan pakaian serba putih dan seorang pria lain.
Sepertinya suami dari wanita yang memeluku tadi.
“Ya, dia baik-baik saja. Detak jantungnya normal.” Kata pria
serba putih tadi.
“Aku dimana?” tanyaku tiba-tiba.
“Siapa kau?” tanyaku pada pria serba putih itu.
“Aa.. Changminie, kau mengenalku?” tanya wanita tadi.
“Siapa kalian semua? Siapa itu Changmin?” tanyaju. Kudengar
tangis wanita tadi makin keras. Aneh sekali.
“Ohh dia amnesia. Tetapi dia hanya mengingat orang yang
benar-benar ia sayang.*author ngarang*” kata pria serba putih. Aku bingung dia
bicara apa?
“Kau mengenal seseorang di dunia ini? Siapa?” tanya pria
serba putih yang kelewat kepo ini.
“Ji Hye.. hanya nama itu yang ku tau sekarang. ”
Kedua pasangan suami istri itu kaget.
“Aku ingin bertemu dengannya, ku dengar ia menangis tadi.
Kudengar suara orang itu *Changmin menunjuk eommanya* membentaknya. Dan aku tak
suka itu. Aku ingin Ji Hye sekarang.” Pintaku. Hanya itu yang kuinginkan.
“Hiks, Changminie~ kami orangutanmu *eits typo* m-maksudnya
kami orangtuamu. Aku eommamu dan dia appamu.” Kata wanita itu di tengah
isakannya. Wanita menangis? Aku kebal dengan hal itu tapi saat di surga sana,
kurasa.....
Kurasa aku tak sanggup mendengar tangisan Ji Hye. Ia
membuatku hidup kembali.
“Jinja? Oh, ternyata aku punya orang tua. T-tapi kalian
bukan orangtuaku. Aku bahkan tak tau siapa orangtuaku, bantu aku mencarinya.
ne” kataku.
Tapi yang ada... wanita iu makin keras tangisannya. Aish
menyebalkan.
“Hei ahjushi berapa lama aku tidur?” tanyaku pada ahjushi
yang dari tadi memeluk wanita yang mengaku-ngaku eommaku.
“lima bulanan.” Jawabnya singkat.
“Aku ingin bertemu Ji Hye boleh?” tanyaku lagi.
“Lupakan dia! ” pinta wanita itu.
“Mwo? mana bisa! Hanya dia satu-satunya yang aku ingat.”
Kedua suami istri itu hanya bertukar panndangan.
“...”
“Lebih baik aku kembali dan memasuki pintu dengan ruangan
yang penuh cahaya itu.” Ancamku.
Mereka panik seketika dan kuharap mereka mau mengabulkan
permohonanku.
“B-ba-baik. Appa akan memanggilkannya untukmu.” Pria itu
segera menelpon seseorang. Mungkin Ji Hye.
“Yobseo.
Apakah ini dengan keluarga Jung?”
“Ne, Waeyo?”
“Dapatkah aku bicara dengan Ji Hye. Ah, ini
aku kepala keluarga Shim.”
“Ne, Ini Ji Hye ahjushi. Waeyo menelponku?”
“Maukah kau kerumah sakit? Changmin terus
mencarimu.”
“Hee? Lama tak mendengar kabar Changmin
setelah Lima bulan. Changmin harus mengulang sekolahnya satu tahun lagi. ”
“Ne,
selamat atas nilai terbaikmu se-Seoul. Kau akan menjadi guru privat yang baik
untuk Changmin. Kupikir ia lupa tentang pelajaran. Cepatlah kesini ne.”
“Ne.
Tunggu aku lima belas menit lagi ahjushi. Gomawo.”
=Normal POV=
CKLEEEK
“Aa. Mian menganggu. Boleh aku masuk?” tanyaku permisi pada
orang yang berada di dalam kamar.
“Nak Ji Hye! Terimakasih kau telah datang untuk Changmin.”
Seru eommanya Changmin.
“JI HYE!!!!!!!!!!!!!”
Sura Changmin menggelegr memanggilku.
Aku segera mendekat ke tempat Changmin berbaring dan kulihat
ia sudah berhasil duduk dari usahanya yang sangat berat untuk itu.
Ia segera menarikku ke dalam pelukannya.
“Bogoshipo Hye-ie, jangan tinggalkan aku.” Kata Changmin
membisikiku.
“Huh?? Kapan aku pernah meninggalkanmu?” tanyaku bingung.
“...”
“...”
“Ji Hye, ayo kita
menikah!” ajak Changmin tiba-tba.
“MWO?????????????” pekikku kaget
“Aku sudah tak sanggup lagi hidup debatang kara.”
“Siapa bilang kau sebatang kara? Kau punya eomma dan appa
Min.” Nasehatku pada Changmin.
“Ainiyo, aku sebatang kara. Dan itu aka berakhir jika kau
menikah denganku.” Kata Changmin dengan nada yang,,,,,, membuatku benar-benar
kasihan.
“Tapi Minnie,” aku sedikit ragu untuk mmelanjutkan
perkataanku.
“Tapi apa?” tanyanya tak sabaran.
“...”
“Jawab Ji Hye!”
“Aku sudah memiliki tunangan. Baru seminggu kami
bertunangan.” Jelasku.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Next to part 3. Thanks buat
yang udah bersedia mampir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar