Selasa, 20 November 2012


TITLE : BEFORE YOU GO
CHAP : 3 of  LAST
CAST : YUNJAEYOOSUMIN, JUNG JI HYE (*), AND OTHER
GENRE : LOVE, ?? (PG 15)
AUTHOR : MONTA A.K.A .......
SOUND TRACK : KOTOBA WA IRANAI (DB5K)
POV :  gonta-ganti
Ini ff pertama saya, yang dimana sayanya juga ikut masuk. Pemainnya hanya milik Tuhan dan cerita ini karangan saya  lebih tepatnya khayalan saya.
Ini cerita terakhir... dari BEFORE U GO
Dilarang COPAS..
Don’t like don’t read


“Aku sudah memiliki tunangan. Baru seminggu kami bertunangan.” Jelasku.
CHAPTER 3

          =Norman POV=
         Changmin memandang Ji Hye tak percaya. Ji Hye hingga kini membuat mimik wajahnya lebih meyakinkan dan meyakinkan.
“T-t-tidak! Hye-ie tak boleh tunangan!” histeris Changmin. Ji Hye hanya membisu. Ia tak tau harus bicara apa. Nafasnya saja sudah terasa sesak sekali.
“Kau bahkan tak memberiku kesempatan untuk mengatakannya. Hatiku terkunci Ji Hye. Aku bahkan tak tahu bagaimana cara membukanya kembali. Hingga aku menerima kenyataan pahit. Aku sungguh tak bisa membukanya kembali. Tak bisa, tak bisa, tak bis-sa. Dan kini kau akan membiarkan hatiku terus terkunci? Bahkan ratusan bidadari dari surga pun t ak akan sanggup membukanya. WALAUPUN DOKTER MEMBELAHNYA SEKALIPU-N.”
         Dan, Changmin yang biasanya terlihat tegar mulai meneteskan kristal-kristal bening. Mengalir seperti sungai yang amat teramat deras.
Ji Hye terpaku melihat Changmin. Ia bahkan tak percaya bahwa sahabatnya ini menyukai dirinya.
Ji Hye turut menangis. Ia harus bagaimana?
“Ji Hye, saat kelas 2 sd. Kau ingat? Saat itu kau menangis ketakutan, kau tak bisa kesekolah karena anjing pak Lee? Kau ingat? Saat itu aku menolongmu. Dan untuk pertama kalinya kau memelukku. Dan saat itu aku mulai menyukaimu. Hingga akhirnya aku tahu kau sudah bertunangan dengan Yoochun Hyung. Bukankah kau pernah bilang padaku kau membencinya dan tak akan menikahinya. Bahkan bertemu dengannya saja kau tak mau. K-kau membohongiku Hye-ie.” Tangis Changmin makin menjadi.
“Satu keinginanku darimu. Yaitu hatimu dan cake strawberry buatanmu. hehehe” Changmin tertawa dalam tangisnya. Dan Ji Hye sangat pilu mendengarnya.
 Ji Hye yang merasa kehadirannya itu hanya akan mengacaukan emosi Changmin lebih memilih pergi dan menjauh.
         =Ji Hye POV=
       Maafkan aku Minnie. Aku terpaksa menerimanya karena paksaan keluargaku. Bahkan aku mulai melupakanmu sejak pertunangan itu terjadi. Aku melupakkanmu.. dan itu diuar keinginanku. Aku tak tahu kalau kau memiliki rassa lebih terhadapku. Aku menerimanya, tetapi...... akankah hal itu terjadi? Mungkinkah?
                                                                                                oOo
17 Februari.....
Sudah 3 bulan sejak kejadian itu aku tak menjenguk Changmin di rumah sakit. Kupikir-pikir... lama juga Changmin mejeng di rumah sakit.
         Aku bahkan bingung kenapa aku jadi ingin menjenguknya. Tak lupa aku membuat strawberry cake favoritnya.
        Baru sampai di depan pintu kamar Changmin. Kulihat pintu itu terbuaka. Terdengar suara tangisan. Dan kulihat seorang dokter dan beberapa suster mendorong ranjang passien dan diatas ranjang itu ada seseorang yang seluruh tubuhnya ditutupi kain putih.
 “Apakah aku salah kamar???????” tanyaku pada diriku sendiri.
Tapi setelah kulihat ke dalam. Kedua orangtua Changmin mengangis. Dan kalian tau apa yang ada di pikiranku sekarang?
“Ji Hye... Changmin,, Changmin,” kata eommanya Changmin di tengah isakkannya.
Aku hanya bengong seperti orang  yang sangat bodoh.
“Changmin m-”
Dan kudengar tangis eommanya Changmin makin menjadi.
Dan sekarang aku dapat menarik kesimpulan.
Changmin......
Meninggal.....

Tetapi kenapa  aku malah menyiakannya. Kenapa aku tak pernah membuatnya bahagia.
Kenapa aku baru sadar... tentang perasaannya.
Aku terduduk dilantai. Dan tanpa kusadari. Butiran kristal membanjiri pipiku.

Dan akhirnya aku menyesal.. sungguh Tuhan aku menyesal.
                                                                         oOo
=Changmin POV=
Tidak ada kata-kata yang diperlukan, aku hanya ingin berada di sisimu Ji Hye..
Cinta ini  memanggil
Ku ingin kita terus saling erat
Ini perasaan tulus ku yang kuat,andaikan aku dapat menghentikan waktu
Aku menyukaimu
Mereka tidak tinggal diam
Perasaan ku tidak bisa berhenti
ke mana cintaku pergi?
Ketika aku menyadari hal itu, aku sudah jatuh cinta
Aku  tidak bisa kembali sekarang
Jika kau menyadari bahwa tidak ada batas di langit biru
Kemudian cepat datang padaku
Tidak ada kata-kata yang diperlukan, aku hanya ingin berada di sisimu
Cinta ini memanggil
Aku  ingin kita terus saling erat
Ini perasaan tulus ku yang kuat, andaikan aku dapat menghentikan waktu
Aku menyukaimu
Tak ada tujuan
Langkah-langkah yang ku ambil menunjukkan jalan kita
Ketika aku menyadari bagaimana aku merasa
Kemudian mari kita memegang tangan dan tidak pernah melepaskan
Musim bagi kita untuk menjadi pecinta telah tiba
Jadi mari kita buka tangan
Tidak ada kata-kata yang diperlukan, aku hanya ingin merasakan kehangatanmu Ji Hye
Cinta terbakar
Aku  ingin menjadi satu denganmu
Setelah kita sudah dekat, mata kita akan terbuka
Aku sangat menyukaimu
Bahwa tuduhan yang menyakitkan akan mencair
Aku  benar-benar menyukaimu
Kau  tidak harus percaya padaku , aku  masih akan mengawasimu
Tidak ada kata-kata yang diperlukan,  aku akan menjadikanmu terasa nyaman di lenganku
Tidak ada kata-kata yang diperlukan
Aku akan membuatmu selalu  tersenyum,  aku akan memastika kau tak akan bersedih
Tidak ada kata-kata yang diperlukan,  Aku akan terus mencintaimu
Tidak ada kata-kata yang diperlukan,  Ku masih  dan selalu ada ...
Tidak ada kata-kata yang diperlukan, aku hanya ingin berada di sisimu
Cinta memanggil
Aku  ingin kita terus saling erat
Ini perasaan tulus ku yang kuat , andaikan aku dapat  menghentikan waktu
Aku menyukaimu
Tidak ada kata-kata yang diperlukan, ku  hanya ingin merasakan kehangatanmu
Cinta terbakar
Tidak ada kata-kata yang diperlukan, aku hanya ingin berada di sisimu
THE END


Jumat, 09 November 2012

BEFORE YOU GO CHAP 2



TITLE : BEFORE YOU GO
CHAP : 2 of ?
CAST : YUNJAEYOOSUMIN, JUNG JI HYE (*), AND OTHER
GENRE : LOVE, ?? (PG 15)
AUTHOR : MONTA A.K.A .......
POV :  gonta-ganti
Ini ff pertama saya, yang dimana sayanya juga ikut masuk. Pemainnya hanya milik Tuhan dan cerita ini karangan saya  lebih tepatnya khayalan saya.
Mian ne, chap kemarin banyak typo(s) yang berceceran. Gomawo atas koreksinya.
Don’t like don’t read

=Ji Hye POV=
Kudengar derap langkah kaki. Sepertinya tak hanya 2 orang yang bakal kesini. Mungkin lebih.
BRAKKKK
Kulihat pintu dibuka kasar oleh appanya Changmin. Dan kulihat pula eommanya Changmin menangis hebat. Prediksiku...
“Ji Hye, gomawo ne, telah membawa Changmin ke rumah sakit.” Kudengar suara bass yang keluar dari mulut appanya Changmin.
“Kenapa dia, hiks, hiks, s-sampai hiks begini..” kata eommanya Changmin di sela isakannya. Sedang appa dan eommaku hanya menatap Changmin dengan pandangan iba.
“Mianhe.” Ucapku tanpa sadar.
Semua mata menoleh padaku *kecuali Changmin*
Aku hanya balas menatap mereka. Aku lalu tertunduk. Haruskah aku melanjutkan? Haruskah? Mungkin.
“Ne, nak Ji Hye??”
“Mianhe. Ahjushi, ahjuma. Sebenarnya dari tadi siang di sekolah ia terus mengeluh pusing. kku pikir dia hanya bermain-main padaku, jai tak ku hiraukan. Lalu saat pulang sekolah bersamakupun, dia terus mengeluh pusing. Aku mulai jengkel padanya. Kubentak saja dia. Karena kupikir dia hanya bercanda. Tapi saat ia pingsan, aku baru tau kalau dia itu serius. Mianhe ahjuma, ahjushi.” Ucapku memohon.
Eomma Changmin dan appa Changmi menatap dingin kepadaku. Kedua orang tuaku memasang wajah khawatir.
“Tega sekali kau membiarkannya Ji Hye.” Kata eomma Changmin dengan nada geram.
“...”
“Kau tau DIA ITU SELALU MENJAGAMU. SAAT KAU DIGANGGU PREMAN DIA YANG MENOLONGMU. BAKHAN IA BABAK BELUR. WALAUPUN KAU BERPURA-PURA SAKIT DIA JUSTRU KHAWATIR PADAMU. SEKARANG APA YANG KAU LAKUKAN HAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHH?” murka eommanya Changmin padaku. aku hanya dapat seunggukan kecil. Bukan karena dimaki eommanya Changmin. Tetapi karena aku menyesal. Sungguh aku menyesal Changmin membiarkan kau terbaring di kasur rumah sakit.
“Sudah Min Rie, sebaiknya kau tenang. Changmin masih dalam keadaan koma. Kau akan mengganggunya.” Terdengar suara appanya Changmin yang menenangkan eommanya Changmin.
=Changmin POV=
“hiks,hiks”
Suara eomma. Itu suara eomma.
“Eomma jangan menangis!” teriakku sekuat tenaga.
“Apakah appa menyakitimu?” teriaku lagi.
“Tapi, aku yakin appa tak akan menyakitimu. Kenapa eomma menangis??? Siapa yang eomma tangisi??? Siapa???” aku kembali berteriak tak peduli suaraku akan serak atau hilang sekalipun. AKU TAK PEDULI.
Hei, aku mendengar suara bentakan seseorang. Apa yang ia lakukan?? Ia membentak Ji Hye.
Ji Hye aku tak mendengar suaramu lagi. Aku sedih Ji Hye. Kau dimana? Ji Hye?
Saat kau melihat cahaya...
 Apa yang kau pikirkan?
Bukan!
Itu bukan lampu atau lilin.
Aku bahkan tak tahu Cahaya apa itu?
Mungkin Cahaya surga???
Apakah aku akan kesana?
Aku tak ingin kesana.
Tapi Cahaya itu menarikku..
Dan...
“unghhhh”
“Appa! Changmin sadar!” terdengar suara seorang wanita.
Kulihat seorang pria berlarian keluar. Dan wanita itu menghampiriku sambil menangis lalu memeluku.
“Changmin, kau sadar Chagiya? Eomma senang.” Wanita itu berkata sambil terisak. Aduh, gaje sekali. Siapa wanita ini aku tak mengenalnya.
Terdengar derap langkah kaki menuju kesini. Dan terlihat sosok pria yang mengenakan pakaian serba putih dan seorang pria lain. Sepertinya suami dari wanita yang memeluku tadi.
“Ya, dia baik-baik saja. Detak jantungnya normal.” Kata pria serba putih tadi.
“Aku dimana?” tanyaku tiba-tiba.
“Siapa kau?” tanyaku pada pria serba putih itu.
“Aa.. Changminie, kau mengenalku?” tanya wanita tadi.
“Siapa kalian semua? Siapa itu Changmin?” tanyaju. Kudengar tangis wanita tadi makin keras. Aneh sekali.
“Ohh dia amnesia. Tetapi dia hanya mengingat orang yang benar-benar ia sayang.*author ngarang*” kata pria serba putih. Aku bingung dia bicara apa?
“Kau mengenal seseorang di dunia ini? Siapa?” tanya pria serba putih yang kelewat kepo ini.
“Ji Hye.. hanya nama itu yang ku tau sekarang. ”
Kedua pasangan suami istri itu kaget.
“Aku ingin bertemu dengannya, ku dengar ia menangis tadi. Kudengar suara orang itu *Changmin menunjuk eommanya* membentaknya. Dan aku tak suka itu. Aku ingin Ji Hye sekarang.” Pintaku. Hanya itu yang kuinginkan.
“Hiks, Changminie~ kami orangutanmu *eits typo* m-maksudnya kami orangtuamu. Aku eommamu dan dia appamu.” Kata wanita itu di tengah isakannya. Wanita menangis? Aku kebal dengan hal itu tapi saat di surga sana, kurasa.....
Kurasa aku tak sanggup mendengar tangisan Ji Hye. Ia membuatku hidup kembali.
“Jinja? Oh, ternyata aku punya orang tua. T-tapi kalian bukan orangtuaku. Aku bahkan tak tau siapa orangtuaku, bantu aku mencarinya. ne” kataku.
Tapi yang ada... wanita iu makin keras tangisannya. Aish menyebalkan.
“Hei ahjushi berapa lama aku tidur?” tanyaku pada ahjushi yang dari tadi memeluk wanita yang mengaku-ngaku eommaku.
“lima bulanan.” Jawabnya singkat.
“Aku ingin bertemu Ji Hye boleh?” tanyaku lagi.
“Lupakan dia! ” pinta wanita itu.
“Mwo? mana bisa! Hanya dia satu-satunya yang aku ingat.”
Kedua suami istri itu hanya bertukar panndangan.
“...”
“Lebih baik aku kembali dan memasuki pintu dengan ruangan yang penuh cahaya itu.” Ancamku.
Mereka panik seketika dan kuharap mereka mau mengabulkan permohonanku.
“B-ba-baik. Appa akan memanggilkannya untukmu.” Pria itu segera menelpon seseorang. Mungkin Ji Hye.
“Yobseo. Apakah ini dengan keluarga Jung?”
“Ne, Waeyo?”
 “Dapatkah aku bicara dengan Ji Hye. Ah, ini aku kepala keluarga Shim.”
 “Ne, Ini Ji Hye ahjushi. Waeyo menelponku?”
 “Maukah kau kerumah sakit? Changmin terus mencarimu.”
 “Hee? Lama tak mendengar kabar Changmin setelah Lima bulan. Changmin harus mengulang sekolahnya satu tahun lagi. ”
“Ne, selamat atas nilai terbaikmu se-Seoul. Kau akan menjadi guru privat yang baik untuk Changmin. Kupikir ia lupa tentang pelajaran. Cepatlah kesini ne.”
“Ne. Tunggu aku lima belas menit lagi ahjushi. Gomawo.”
=Normal POV=
   CKLEEEK
“Aa. Mian menganggu. Boleh aku masuk?” tanyaku permisi pada orang yang berada di dalam kamar.
“Nak Ji Hye! Terimakasih kau telah datang untuk Changmin.” Seru eommanya Changmin.
“JI HYE!!!!!!!!!!!!!”
Sura Changmin menggelegr memanggilku.
Aku segera mendekat ke tempat Changmin berbaring dan kulihat ia sudah berhasil duduk dari usahanya yang sangat berat untuk itu.
Ia segera menarikku ke dalam pelukannya.
“Bogoshipo Hye-ie, jangan tinggalkan aku.” Kata Changmin membisikiku.
“Huh?? Kapan aku pernah meninggalkanmu?” tanyaku bingung.
“...”
“...”
“Ji  Hye, ayo kita menikah!” ajak Changmin tiba-tba.
“MWO?????????????” pekikku kaget
“Aku sudah tak sanggup lagi hidup debatang kara.”
“Siapa bilang kau sebatang kara? Kau punya eomma dan appa Min.” Nasehatku pada Changmin.
“Ainiyo, aku sebatang kara. Dan itu aka berakhir jika kau menikah denganku.” Kata Changmin dengan nada yang,,,,,, membuatku benar-benar kasihan.
“Tapi Minnie,” aku sedikit ragu untuk mmelanjutkan perkataanku.
“Tapi apa?” tanyanya tak sabaran.
“...”
“Jawab Ji Hye!”
“Aku sudah memiliki tunangan. Baru seminggu kami bertunangan.” Jelasku.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> 

Next to part 3. Thanks buat  yang udah bersedia mampir.






BEFORE YOU GO CHAP 1



TITLE : BEFORE YOU GO
CHAP : 1 of ?
CAST : YUNJAEYOOSUMIN, JUNG JI HYE (*), AND OTHER
GENRE : LOVE, ?? (PG 15)
AUTHOR : MONTA A.K.A .......
POV :  gonta-ganti
Ini ff pertama saya, yang dimana sayanya juga ikut masuk. Pemainnya hanya milik Tuhan dan cerita ini karangan saya  lebih tepatnya khayalan saya.
Don’t like don’t read
Hai! Perkenalkan , namaku Jung Ji Hye. Aku anak bungsu dari 3 bersaudara. Aku kelas 3  Junior High School Toho Seoul. Oh opa2ku dua-duanya laki-laki lho, mereka itu tampan-tampan. Dia sangat sayang padaku aku tak pernah diperlakukan kasar oleh mereka, melontarkan kata kasar saja dia tidak pernah.
Nama oppaku yang paling tua  adalah Jung Yunho.

.
Dia adalah oppaku yang jago taekwondo, jago banged malah. Dia kelas  2 Senior High School Dong Bang Seoul. Dengan ilmu bela dirinya itulah dia melindungi aku oppaku Junsu, dan eommaku dari marabahaya di saat appa tak ada di rumah.
Misinya saat  ini adalah “belajar untuk menyelamatkan dunia (?)
Aneh memang misinya, mengingat dia masih mencintai Ultraman dari TK A sampai sekarang.
Nah ini oppaku yg kedua Jung Junsu namanya
 







Dia ini anak yang paling pintar di dalam keluarga kami. Saking pintarnya, sering kulihat ia membolos pada jam pelajaran Bahasa Inggris. Dia sekolah di tempat yang sama dengan Yunho oppa namun bedanya dia itu kelas 1. Dia itu sangat polos. Dia tidak pernah berbohong padaku apalagi tentang orang yang ia sukai. Dan aku senang mendengarkan curhatnya yang sebenarnya termasuk dala kategori aibnya.
Eommaku seorang ibu rumah tangga yang jago masak. Appaku seorang dokter.

Dan ada Park Yoochun
Appa dan eommaku yang masih terobsesi dengan jaman Siti  Nurbaya itu dengan gampangnya mejodohkanku dengan Yoochun. Ia kelas 1 SMU. SMU yg sama denga oppa2ku. Ia sekelas dengan Junsu oppa. Aku menerima kehadirannya di duniaku. Jadi sekarang aku berpacaran dengannya.

Ini  namanya Kim Jaejoong.






Dia ini namja, tapi cantik banget. Malah lebih cantik dari yeojya. Dia sahabat Yunho oppa.
Tapi kurasa Yunho oppa punya perasaan lebih dari itu. Bahkan, Yunho oppa yang dulunya suka memperhatikan wanita menjadi menutup diri terhadap wanita. Kecuali JJ oppa. ini Forbiden Love namanya. Tapi kalau Yunho oppa memang tulus padanya pasti dia punya cara untuk itu. Eh BTW JJ oppa kelas 3 SMU. Lebih tua setahun ya.

Dan yang terakhir ada sahabatku.. tetanggaku juga Shim Changmin







Ia juga teman sekelasku. Aku selalu curhat padanya. Padahal aku selalu menutup diri. Bahkan dengan keluargaku. Kami bertema sejak taman kanak2 waktu itu usia kami 5 tahun. Aku sangat suka senyumnya. Ia tak pernah membuatku menangis. Tapi, aku sangat kasihan padanya, diblik senyum manis dengan deretan giginya yang lucu ia memiliki penyakit jantung bawaan sejak kelas 4 SD. Disaat jam olahraga ia selalu tidak ikut.  Orang tuanya melarangnya karena antungnya terlalu lemah untu itu. Padahal olahraga itu pelajaran kesukaannya.


   Hari ini seperti biasa aku mengerjakan pr bersama Changmin. Dan waktu itu aku lupa bahwa Yoochun oppa akan datang ke rumah untuk bermain.
Tok tok tok
Kudengar orang yang mengetuk pintu rumahku. Eommaku berlarian kecil keluar untuk membukakan pintu.
“Ah, Yoocun, ayo masuk.”
Terdengar jelas suara eommku yang mempersilahkan Yoochun oppa masuk. Sekarang aku menatap Changmin.
“Hye-ie.. kau bilang Yoochun hyung tak akan datang hari ini.” Protes Changmin.
“gawat!!! Yoochun oppa akan marah jika aku bersama laki-laki lain.” Panikku .
“Hai Ji Hye...” sapa Yoochun oppa padaku.
“Hai Yoochun oppa.” Balasku.
“Ji Hye, sudah kubilang jangan dekat-dekat laki-laki lain. Apalagi kalu berduaan di ruang keluarga.” Protes Yoochun oppa.
“tuh kan..”
“ya sudah  Hye-ie aku pulang dulu.” Pamit Changmin langsung keluar kudengar suara pamit Changmin pada oppa2ku dan eommaku.
“Dan aku sangat cemburu Ji Hye.” Lanjutnya lagi.
Eommaku datang. Sepertinya ia tertarik dengan bentakan halus Yoochun oppa .
“Hei Yoochun ada apa?” tanya eommaku yang selalu ingin tahu urusan anak-anaknya.
“Ini bibi, dia di ruang keluarga berduaan dengan Changmin.” Ujar Yoochun oppa dengan nada kesal.
“Apa salahnya, dia hanya mengerjakan pr seperti biasa dengan Changmin, itu tidak aneh mengingat kau yang sering mengerjakan pr bersama Eun Ji berdua di kamar Eun Ji. Tanya saja pada Ji Hye apa dia marah kau begitu?” Bela Junsu oppa padaku.
“Ia. Junsu oppa benar aku tidak pernah marah kau mengerjakan pr berdua dengan Onnie Eun Ji, di dalam kamar pula. Kupikir itu tidak aneh.” Bentaku pada Yoochun oppa.
Eomma menjauh sepertinya ia tidak tahu harus bicara apa pada lingkarang perbincangan anak muda di rumahnya ini.
“Ji Hye, jangan marah padaku ya.” Yoochun oppa melunak. Kutatap Yoochun oppa sinis.
“Lalu mau apa Yoochun oppa kemari. Bukankah Yoochun oppa hari ini sibuk mengerjakan pr lagi bersama eonnie Eun Ji?” tanyaku dengan penuh penekanan. Bagaimanapun aku sangat kesal dengannya sekarang. Sampai Changmin pulang kerumahnya karena dia.
“Ya aku mengajakmu jalan-jalan ke Tropical Land. Kau mau?” ajak Yoochun oppa.
    Sebenarnya aku mau ke Tropical Land. Tapi kalau bersamanya aku tidak mau untuk hari Sabtu ini saja. Moodku kurang baik sekarang.
“Bagaimana?” tawarnya lagi.
“Yoochun oppa, aku rasa aku tidak enak badan hari ini. Bagaimana kalau besok saja?” tawarku.
Kulihat anggukan Yoochun oppa yang sepertinya kecewa. Aku jadi merasa bersalah.
“Baiklah Ji Hye, besok ya!” kata Yoochun oppa sebelum keluar dari rumah. aku mengantarnya sampai depan pintu gerbang. Hingga bayangan sepeda motornya menghilang, baru aku masuk kerumah.
“Ji Hye pabo, pabo, pabo, kenapa aku membuatnya kecewa”
Gumamku sambil memukul-mukul kepalaku.
“Ji Hye hentikan! Jangan memukul kepalamu, nanti kau pusing.” Tegur Junsu oppa halus. Aku segera menghentikan aksiku.
“Kau kenapa?” tanya Junsu oppa denggan pandangan menyelidik.
“hehehe Junsu oppa. Aku ingin bertanya denganmu boleh tidak?” tanyaku sambil mendudukan diriku di kursi ruang tamu. Junsu oppa juga ikut duduk di sebelahku.
“Bertanya apa Ji Hye?” tanya Junsu oppa seperti tidak sabar menunggu.
“Yoochun oppa itu ada hubungan khusus gak sama eonnie Eun Ji?” tanyaku.
Junsu oppa memasang muka aneh saat mendengar pertanyaanku.
“Kurasa tidak. Yang kutau mereka hanya berteman, lagipula.. kedua orang tua Yoochun tidak menyukai Eun Ji, karena dia wanita Club Malam. Dia memang cantik. tapi dia itu sexy banget. Tapi dia gak secantik kamu Eun Ji. Kamu itu Luar Biasa banget.” Jelas Junsu oppa. Dan aku percaya pada Junsu oppa karena Junsu oppa tidak pernah bohong.
“Tapi sebenarnya aku cemburu oppa. aku pernah mengecek ponselnya Yoochun oppa. dan dugaanku benar. Ia lebih sering meghubungi eonnie Eun Ji dibanding  aku. Sebetulnya dia setuju gak sih dengan perjodohan itu.” Kataku dengan bebasnya bercurhat dengan Junsu oppa yang sering keceplosan itu. Aku terpaksa. Karena hanya dengan Junsu oppalah aku dapat mengetahui keadaan Yoochun oppa.
“Iya saat orang tua kita dan orang tuanya berkata akan menjodohkan kalian, dia sangat senang luar biasa. Sampai-sampai dia pamer fotomu dikelas.”
“Itukan saat 2 tahun yang lalu.. yang sekarang oppa.” rengekku sambil menarik-narik baju Junsu oopa.
“Umm aku belum tau pasti. Tapi aku akan menyelidikinya untukmu Ji Hye.” Kata Junsu oppa lalu mengacak rambutku.
“rambutmu berminyak Ji Hye. Kau belum mandi ya?” goda Junsu oppa.
“Iya, iya, aku akan mandi sekarang oppa...” kataku lalu beranjak ke kamar mandi.
                                                            o0o
 “Bulgogi buatan eomma enak sekali.” Kata Yunho oppa sambil menyantap hidangan yang eomma buat dengan Lahap.
“Aku sudah selesai makan ” kataku lesu.
“Ji Hye? Kau sakit? Kau kelihatan sangat lesu.” Selidik Yunho oppa padaku.
“Aniyo, gwenchana!” tangkalku. Aku sebenarnya baik-baik saja. Tetapi akupun tak tau kenapa nada suaraku terdengar lesu.
“Jangan bohong Ji Hye, kami ini kakak-kakakmu.” Kata Junsu oppa.
“Bagaimana kalau kau curhat dengan kami semua. Kau selalu menutup dirimu Ji Hye, itu tidak baik untuk dirimu.” Kali ini eomma ikut-ikutan nimbrung.
“ini pertama kalinya aku akan curhat dengan mereka. Atau tidak.”
“Tak ada yang perlu ku bicarakan.” Itulah jawabku untuk pertanyaan dan pernyataan mereka.
“Ji Hye, oppa sedih kau tertutup pada kami semua. ” timpal Yunho oppa.
“Yunho oppa juga tertutup soal JJ oppa.”
“bukankah siang tadi kau bertengkar dengan Yoocun, Ji Hye? Mungkinkah itu masalahnya?” selidik eomma. Ah soal itu.
“Sepertinya begitu.” Jawabku sekenanya.
“Aish, kau ini” kesal Junsu oppa.
“Aku benci Yoochun oppa.” kataku judes.
“Wae?” eommaku membatalkan acara cuci piringnya dan kembali duduk untuk mendengrkan curhatku.
“Sepertinya dia memenci Changmin.”  Aku tak tahan jika tak menceritakan ini semua.
“Hei wajar. Dia itu cemburu. Masa kau tidak paham perasaannya.” Eommaku  ternyata lebih berpihak pada Yoochun oppa. kedua oppaku hanya ikut mendengarkan.
“Tak paham? Yang tak paham itu aku? Atau Yoochun oppa? apa dia tak paham kalau Changmin itu sahabatku. SAHABAT.” Kataku dengan penekanan di kata terakhirku..
Aku langsung berdiri.
“Ji Hye? Kau mau kemana? ”tanya Yunho oppa kaget.
“Aku ngantuk oppa. ini sudah sangat larut. Bangunkan aku jika appa datang.” Lalu aku pergi beranjak kekamar.
o0o
   “Pagi Changmin, kita berangkat bareng Yok. ” ajakku pada Changmin pagi ini.
“Pagi Hye-ie. Umm kau tak berangkat dengan Yoochun hyung?” tanya Changmin.
“Anu, hari ini dia tidak bisa mengantarku.” Kataku jujurr.
“Sebentar tunggu disini!” perintah Changmin padaku.
“Kau mau kemana Changmin???” tanyaku pada Changmin setengah berteriak.
“Aku mau bilang pada appa dan eomma untuk tidak mengantarku pagi ini!” balas Changmin dengan setengah berteriak juga.
“Tak usah Min, lebih bak kau bersama mereka. Biar aku minta antar Yunho oppa.” kataku.
Changmin berlari ke arahku.
“Jangan!” katanya sambil memegang tanganku erat.
“Tapi.”
“Kau ini. Kumohon jangan. Pergilah bersamaku Hye-ie”
Changmin lalu mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.
“Min berangkat sama Hye-ie  appa.”
“Mian appa lain kali saja.
“Ne appa.”
PLAAAAAKK
Tanganku mendarat di pipi Changmin dengan kerasnya. Changmin meringis kesakitan sambil mengelus pipinya dan menatapku heran.
“Hye-ie, apa yang kau lakukan?” tanyanya.
“Changmin pabo. PABO!” bentakku.
“Hye-ie aku ak mengerti apa maksudmu.” Kata Changmin yang mulai ketakutan.
“Changmin pabo! Bukankah appamu hanya datang satu bulan sekali? Dan besok dia sudah pergi keluar kota bukan? Kau selalu mengeluh karena itu. Tapi kau malah menyiakannya” emosiku meluap.
“Hye-ie dengarkan ak..”
“Sudah, aku kecewa padamu Changmin” aku membuang muka pada Changmin.
“Ya! Appaku pulang besok lusa, jadi masih ada hari esok.” Changmin menjelaskan dengan pelan. Jika aku dalam situasi seperti Changmin. Aku pasti akan marah-marah.
“Huh? Ji Hye??? Kau salah informasi. Kau bikin malu saja pabo pabo pabo”
Aku memandang Changmin cengengesan. Dan tersenyum lima jari.
“Maaf aku salah paham. Ayo kita pergi.”ajakku.
“Tapi maaf saja tidak cukup!” kata Changmin. Senyum jahil sudah terulas jelas di wajahnya.
“MWO? apa yang kau inginkan??” tanyaku dengan nada ‘shock banget’.
“Selama kita pergi sekolah dan pulang sekolah hari ini, kita harus bergandengan tanggan. Ah selama di sekolah juga termasuk jam pelajaran. Kita kan sebangku.” Changmin dengan riang mengucapkan permintaannya.
“...”
Aku menyanggupinya, tapi entah kenapa aku mematung. Changmin yang tadinya riang langsug tertunduk dan memasang muka sedih.
“Mianhe. Aku lupa kalau kau punya Calon Tunangan. Mian.” Katanya lirih.
“Ayo berangkat!” ajaknya.
Aku mengikuti langkahnya. Baru 10 langkah sudah ku pegang tangannya.
“HUM????” ia bergidik kaget.
“itu Permintaanmu kan? Aku menyanggupinya, lagi pula Yoochun oppa hanya calon. Itu bisa saja kubatalkan. Hanya saja aku...” aku terdian. Berat rasanya melanjutkannya.
“Lalu? Hanya saja kau?????” Changmin penasaran.
“Aku masih memiliki rasa dengannya. Aku juga bingung. Aku tak menyukainya tetapi aku tak rela putus hubungan dengannya. ” ucapku.
Changmin merenggangkan pegangan tangan kami.
“Changmin..”
“Kita punya jalan masing-masing kan? Aku tak mau kalian bertengkar hanya karena aku. Aku akan mendapatkan pacar. Aku akan mencoba untuk mencintai seseorang.” Kata Changmin dingin.
“Changmin... ”
Aku bahkan tak sanggup mendengar kata-kata itu. Dia ingin mencari pacar. Aku tak tau perasaan macam apa yang kumiliki. Aku pasti akan merasakan sakit jika kau memiliki pacar. Aku takut kau tak akan mengerjakan pr deganku lagi. Memberiku boneka disaat musim semi. Tak akan mengajakku ke taman lagi, dan mungkin semua itu justru akan kau berikan pada pacarmu kelak.
o0o
dikelas kami tak bergandengan tangan seperti rencana. Ia justru melirik seorang anak perempuan benama Ga Yoon.
Itukah targetmu Min? Aku senang kalau begitu. Kutau Ga Yoon anak yang manis dan pintar, penurut dan penyayang.
“Ji Hye.” Hah? Changmin? Kau tidak memanggilku dengan sebutan Hye-ie lagi? Dimana panggilan sahabatmu itu??
“Ya Ji Hye! Kau punya Nomer ponsel Ga Yoon?”
Aku mengangguk dan memberikan nomer ponsel Ga Yoon.
Seharusnya ia sangat senang. Yang ada dia malah sedih.
o0o
terdengar bunyi lagu DB5K ‘wrong number’ dari ponselku.
Kulirik siapa yang menelponku kali ini.
“Yoochun oppa”  gumamku setelah mengetahui yang menelponku adalah Yoochun oppa.
Aku segera mengangkat telponnya.


“Yobseo oppa.”
“Yobseo Chagiya~”
“Wae oppa?”
“Chagiya, hari ini kau kesekolah ya?”
“Ne, ada pelajaran tambahan.”
“Mwo? padahal ini hari minggu.. seharusnya kau menelponku. Agar aku mengantarmu.”
“Aku tak mau merepotkanmu oppa, setiap hari kau menjemputku, tak bosankah kau?”
“Mana pernah aku bosan denganmu chagiya~”
“Jinja?”
“Ne Chagiya. Oh ne, hari ini aku tak  bisa ke tropical land bersamamu.”
 “Oppa, kau mau pergi kemana? Kerumah eonnie Eun Ji?”
“tepat  sekali. Ternyata pacarku cukup pintar.”
“Baiklah oppa, terserah kau saja, kalau begitu aku mau main kerumah Minnie.”
Piip.
“huh, kau pikir aku tak bisa begitu Yoochun oppa”
Aku melangkangkan kakiku menuju rumah Changmin. Saat didepan pintu pagarnya segera kutekan bel rumahnya.
Yang kulihat appanya Changmin yang keluar.
“oh kau nak Ji Hye, Changmin sakit demam. Jadi ia tak bisa main denganmu hari ini.”
Kata appanya Changmin mengabarkan keadaan Changmin
“Jinja?”
Appanya Changmin mengangguk.
“Ahjushi. Bolehkah aku menjenguk Changmin?”
Appanya Changmin mengangguk lagi. Dan ia mengajakku ke kamar Changmin. Baru saja tubuhku ingin mencapai ambang pintu ...
“Changmin, ada temanmu Ji Hye” kata appa Changmin setengah berteriak.
Changmin memandangku dengan muka masam
“Aku tak mau dia disini appa.” Shut Changmin dingin.
=Changmin POV=
Terdengar suara langkah kaki yang makin membesar. Mungkin ada seseorang yang akan masuk kamarku.
“Changmin, ada temanmu Ji Hye” kudengar suara appa setengah berteriak.
Ah Ji Hye datang. Aku senang sekali disaat seperti ini ia mau menjengukku. Setahuku ia akan pergi bersama Yoochun hyung ke tropical land.
Tapi, aku malu padanya. Kenapa di saat ia adda aku malah sakit. Aku tak ingin terlihat lemah di matanya. Aku tak ingin terlihat lemah, tapi bangun dari kasur ini saja aku tak sanggup. Aku tak ingin melihat Ji Hye menangisiku seperti saat-saat sakitku biasanya. Itu sangat perih. Aku tak ingin melihatnya menangis jadi ....
“Aku tak mau dia disini appa.”
Aku terpaksa berucap begitu Ji Hye,. Aku tak ingin melihatku begini.
Kulihat  mata Hye-ie berkaca-kaca. Pastim sebentar lagi ia akan menangis.
Ia langsung pergi keluar tanpa pamit dengan appaku. Appaku mengejarnya.
Dan sekarang akulah yang meneteskan air mata. Ji Hye, aku tak bermaksud begitu. Aku harap kau tak akan salah paham.
                                                                        o0o
   hari ini aku kesekolah diantar appaku. Rasanya senang sekali. Sesampainya di sekolah aku mematung di depan pos satpam. Kenapa? Kenapa? Kenapa jantungku merasa sakit  saat melihat Ji Hye di antar  oleh Yoochun hyung.
Biasanya Ji Hye lagsung datang kearahku. Tetapi kali ini dia malah melewatiku.
Di kelaspun tak ada komunikasi di antara kami.
“Hye-ie” panggilku.
“Changmin, bisakah kau tidak mrmanggil namaku begitu. Telingaku sakit mendengarnya.” Bentak Hye-ie kasar padaku.
“Bukankah kau menyukai itu?” tanyaku.
Ji Hye sangat senang jika dipnggil begitu.
“Sekarang tidak aku tak mau dipanggil begitu olehmu.”
“Ji Hye. Kau kenapa?”
“Tidak apa. “
o0o
   saat pulang sekolah aku terus mengikuti langkah Ji hye. Aku sudah berjanji pada Yunho hyung agar terus menjaga Ji Hye.
“Ji Hye, aku pusing.”  Kataku memelas pada Ji Hye.
Ji Hhye terur melangkahkan kakinya tanpa menghiraukanku. Aku juga terus mensejajarkan langkahku.
“Ji Hye...” panggilku pada Ji Hye.
Ji Hye tiba-tiba membalikan badannya. Aku hampir tertabrak dengannya jika saja aku tidak menghentikan langkahku. Ia memasang muka dingin. Dingin sekali, sangat sulit aku menggambarkannya.
“Changmin”
Akhirnya ia membuka suara. Kau tau dengan begitu saja aku senang.
“Jangan mencari perhatianku saja.” Katanya den
“Ji Hye pabo!!! Kenapa kau berpikir seperti itu???? Changmin pasti hidup. Ia masih Hidup........”  gumamku smbil memukul-mukl keplaku.
Terdengar bunyi lagu Wrong number dari ponselku. Ah pasti Yoochun oppa yang menelponku. Dan ternyata itu benar setelah aku melihat ponselku. Aku segera saja mengangkatnya.
“Yobseo..”
 “Yobseo Chagiya~ Ungh.. kau dimana sekarang??”
“Aku... hei untuk apa kau mencariku??”
 “Kenapa? Tidak boleh ya?”
“Tentu ssaja tidak pabo! Ini kan jam sekolah.”
 “Kau Yang pabo Chagi....” suara Yoochun oppa kudengar sangat dingin.
“Hei.... kau”
“Bukankah ini sudah jam 6 sore. Bukankah sekolahmu sudah bubar pda jam 6:30 petang. Kau jangan bohong.”
PIIIP
Segera saja ku cabut baterai ponselku. Aku tak mau bicara padanya sekarang tidak untuk sekarang.

Next To Chap 2 , mian pendek and thank’s buat yang udah baca. Lain kali datang lagi ya di Chap 2
;) ;)






TITLE : BEFORE YOU GO
CHAP : 1 of ?
CAST : YUNJAEYOOSUMIN, JUNG JI HYE (*), AND OTHER
GENRE : LOVE, ?? (PG 15)
AUTHOR : MONTA A.K.A .......
POV :  gonta-ganti
Ini ff pertama saya, yang dimana sayanya juga ikut masuk. Pemainnya hanya milik Tuhan dan cerita ini karangan saya  lebih tepatnya khayalan saya.
Don’t like don’t read
Hai! Perkenalkan , namaku Jung Ji Hye. Aku anak bungsu dari 3 bersaudara. Aku kelas 3  Junior High School Toho Seoul. Oh opa2ku dua-duanya laki-laki lho, mereka itu tampan-tampan. Dia sangat sayang padaku aku tak pernah diperlakukan kasar oleh mereka, melontarkan kata kasar saja dia tidak pernah.
Nama oppaku yang paling tua  adalah Jung Yunho.

.
Dia adalah oppaku yang jago taekwondo, jago banged malah. Dia kelas  2 Senior High School Dong Bang Seoul. Dengan ilmu bela dirinya itulah dia melindungi aku oppaku Junsu, dan eommaku dari marabahaya di saat appa tak ada di rumah.
Misinya saat  ini adalah “belajar untuk menyelamatkan dunia (?)
Aneh memang misinya, mengingat dia masih mencintai Ultraman dari TK A sampai sekarang.
Nah ini oppaku yg kedua Jung Junsu namanya
 







Dia ini anak yang paling pintar di dalam keluarga kami. Saking pintarnya, sering kulihat ia membolos pada jam pelajaran Bahasa Inggris. Dia sekolah di tempat yang sama dengan Yunho oppa namun bedanya dia itu kelas 1. Dia itu sangat polos. Dia tidak pernah berbohong padaku apalagi tentang orang yang ia sukai. Dan aku senang mendengarkan curhatnya yang sebenarnya termasuk dala kategori aibnya.
Eommaku seorang ibu rumah tangga yang jago masak. Appaku seorang dokter.

Dan ada Park Yoochun
Appa dan eommaku yang masih terobsesi dengan jaman Siti  Nurbaya itu dengan gampangnya mejodohkanku dengan Yoochun. Ia kelas 1 SMU. SMU yg sama denga oppa2ku. Ia sekelas dengan Junsu oppa. Aku menerima kehadirannya di duniaku. Jadi sekarang aku berpacaran dengannya.

Ini  namanya Kim Jaejoong.






Dia ini namja, tapi cantik banget. Malah lebih cantik dari yeojya. Dia sahabat Yunho oppa.
Tapi kurasa Yunho oppa punya perasaan lebih dari itu. Bahkan, Yunho oppa yang dulunya suka memperhatikan wanita menjadi menutup diri terhadap wanita. Kecuali JJ oppa. ini Forbiden Love namanya. Tapi kalau Yunho oppa memang tulus padanya pasti dia punya cara untuk itu. Eh BTW JJ oppa kelas 3 SMU. Lebih tua setahun ya.

Dan yang terakhir ada sahabatku.. tetanggaku juga Shim Changmin







Ia juga teman sekelasku. Aku selalu curhat padanya. Padahal aku selalu menutup diri. Bahkan dengan keluargaku. Kami bertema sejak taman kanak2 waktu itu usia kami 5 tahun. Aku sangat suka senyumnya. Ia tak pernah membuatku menangis. Tapi, aku sangat kasihan padanya, diblik senyum manis dengan deretan giginya yang lucu ia memiliki penyakit jantung bawaan sejak kelas 4 SD. Disaat jam olahraga ia selalu tidak ikut.  Orang tuanya melarangnya karena antungnya terlalu lemah untu itu. Padahal olahraga itu pelajaran kesukaannya.


   Hari ini seperti biasa aku mengerjakan pr bersama Changmin. Dan waktu itu aku lupa bahwa Yoochun oppa akan datang ke rumah untuk bermain.
Tok tok tok
Kudengar orang yang mengetuk pintu rumahku. Eommaku berlarian kecil keluar untuk membukakan pintu.
“Ah, Yoocun, ayo masuk.”
Terdengar jelas suara eommku yang mempersilahkan Yoochun oppa masuk. Sekarang aku menatap Changmin.
“Hye-ie.. kau bilang Yoochun hyung tak akan datang hari ini.” Protes Changmin.
“gawat!!! Yoochun oppa akan marah jika aku bersama laki-laki lain.” Panikku .
“Hai Ji Hye...” sapa Yoochun oppa padaku.
“Hai Yoochun oppa.” Balasku.
“Ji Hye, sudah kubilang jangan dekat-dekat laki-laki lain. Apalagi kalu berduaan di ruang keluarga.” Protes Yoochun oppa.
“tuh kan..”
“ya sudah  Hye-ie aku pulang dulu.” Pamit Changmin langsung keluar kudengar suara pamit Changmin pada oppa2ku dan eommaku.
“Dan aku sangat cemburu Ji Hye.” Lanjutnya lagi.
Eommaku datang. Sepertinya ia tertarik dengan bentakan halus Yoochun oppa .
“Hei Yoochun ada apa?” tanya eommaku yang selalu ingin tahu urusan anak-anaknya.
“Ini bibi, dia di ruang keluarga berduaan dengan Changmin.” Ujar Yoochun oppa dengan nada kesal.
“Apa salahnya, dia hanya mengerjakan pr seperti biasa dengan Changmin, itu tidak aneh mengingat kau yang sering mengerjakan pr bersama Eun Ji berdua di kamar Eun Ji. Tanya saja pada Ji Hye apa dia marah kau begitu?” Bela Junsu oppa padaku.
“Ia. Junsu oppa benar aku tidak pernah marah kau mengerjakan pr berdua dengan Onnie Eun Ji, di dalam kamar pula. Kupikir itu tidak aneh.” Bentaku pada Yoochun oppa.
Eomma menjauh sepertinya ia tidak tahu harus bicara apa pada lingkarang perbincangan anak muda di rumahnya ini.
“Ji Hye, jangan marah padaku ya.” Yoochun oppa melunak. Kutatap Yoochun oppa sinis.
“Lalu mau apa Yoochun oppa kemari. Bukankah Yoochun oppa hari ini sibuk mengerjakan pr lagi bersama eonnie Eun Ji?” tanyaku dengan penuh penekanan. Bagaimanapun aku sangat kesal dengannya sekarang. Sampai Changmin pulang kerumahnya karena dia.
“Ya aku mengajakmu jalan-jalan ke Tropical Land. Kau mau?” ajak Yoochun oppa.
    Sebenarnya aku mau ke Tropical Land. Tapi kalau bersamanya aku tidak mau untuk hari Sabtu ini saja. Moodku kurang baik sekarang.
“Bagaimana?” tawarnya lagi.
“Yoochun oppa, aku rasa aku tidak enak badan hari ini. Bagaimana kalau besok saja?” tawarku.
Kulihat anggukan Yoochun oppa yang sepertinya kecewa. Aku jadi merasa bersalah.
“Baiklah Ji Hye, besok ya!” kata Yoochun oppa sebelum keluar dari rumah. aku mengantarnya sampai depan pintu gerbang. Hingga bayangan sepeda motornya menghilang, baru aku masuk kerumah.
“Ji Hye pabo, pabo, pabo, kenapa aku membuatnya kecewa”
Gumamku sambil memukul-mukul kepalaku.
“Ji Hye hentikan! Jangan memukul kepalamu, nanti kau pusing.” Tegur Junsu oppa halus. Aku segera menghentikan aksiku.
“Kau kenapa?” tanya Junsu oppa denggan pandangan menyelidik.
“hehehe Junsu oppa. Aku ingin bertanya denganmu boleh tidak?” tanyaku sambil mendudukan diriku di kursi ruang tamu. Junsu oppa juga ikut duduk di sebelahku.
“Bertanya apa Ji Hye?” tanya Junsu oppa seperti tidak sabar menunggu.
“Yoochun oppa itu ada hubungan khusus gak sama eonnie Eun Ji?” tanyaku.
Junsu oppa memasang muka aneh saat mendengar pertanyaanku.
“Kurasa tidak. Yang kutau mereka hanya berteman, lagipula.. kedua orang tua Yoochun tidak menyukai Eun Ji, karena dia wanita Club Malam. Dia memang cantik. tapi dia itu sexy banget. Tapi dia gak secantik kamu Eun Ji. Kamu itu Luar Biasa banget.” Jelas Junsu oppa. Dan aku percaya pada Junsu oppa karena Junsu oppa tidak pernah bohong.
“Tapi sebenarnya aku cemburu oppa. aku pernah mengecek ponselnya Yoochun oppa. dan dugaanku benar. Ia lebih sering meghubungi eonnie Eun Ji dibanding  aku. Sebetulnya dia setuju gak sih dengan perjodohan itu.” Kataku dengan bebasnya bercurhat dengan Junsu oppa yang sering keceplosan itu. Aku terpaksa. Karena hanya dengan Junsu oppalah aku dapat mengetahui keadaan Yoochun oppa.
“Iya saat orang tua kita dan orang tuanya berkata akan menjodohkan kalian, dia sangat senang luar biasa. Sampai-sampai dia pamer fotomu dikelas.”
“Itukan saat 2 tahun yang lalu.. yang sekarang oppa.” rengekku sambil menarik-narik baju Junsu oopa.
“Umm aku belum tau pasti. Tapi aku akan menyelidikinya untukmu Ji Hye.” Kata Junsu oppa lalu mengacak rambutku.
“rambutmu berminyak Ji Hye. Kau belum mandi ya?” goda Junsu oppa.
“Iya, iya, aku akan mandi sekarang oppa...” kataku lalu beranjak ke kamar mandi.
                                                            o0o
 “Bulgogi buatan eomma enak sekali.” Kata Yunho oppa sambil menyantap hidangan yang eomma buat dengan Lahap.
“Aku sudah selesai makan ” kataku lesu.
“Ji Hye? Kau sakit? Kau kelihatan sangat lesu.” Selidik Yunho oppa padaku.
“Aniyo, gwenchana!” tangkalku. Aku sebenarnya baik-baik saja. Tetapi akupun tak tau kenapa nada suaraku terdengar lesu.
“Jangan bohong Ji Hye, kami ini kakak-kakakmu.” Kata Junsu oppa.
“Bagaimana kalau kau curhat dengan kami semua. Kau selalu menutup dirimu Ji Hye, itu tidak baik untuk dirimu.” Kali ini eomma ikut-ikutan nimbrung.
“ini pertama kalinya aku akan curhat dengan mereka. Atau tidak.”
“Tak ada yang perlu ku bicarakan.” Itulah jawabku untuk pertanyaan dan pernyataan mereka.
“Ji Hye, oppa sedih kau tertutup pada kami semua. ” timpal Yunho oppa.
“Yunho oppa juga tertutup soal JJ oppa.”
“bukankah siang tadi kau bertengkar dengan Yoocun, Ji Hye? Mungkinkah itu masalahnya?” selidik eomma. Ah soal itu.
“Sepertinya begitu.” Jawabku sekenanya.
“Aish, kau ini” kesal Junsu oppa.
“Aku benci Yoochun oppa.” kataku judes.
“Wae?” eommaku membatalkan acara cuci piringnya dan kembali duduk untuk mendengrkan curhatku.
“Sepertinya dia memenci Changmin.”  Aku tak tahan jika tak menceritakan ini semua.
“Hei wajar. Dia itu cemburu. Masa kau tidak paham perasaannya.” Eommaku  ternyata lebih berpihak pada Yoochun oppa. kedua oppaku hanya ikut mendengarkan.
“Tak paham? Yang tak paham itu aku? Atau Yoochun oppa? apa dia tak paham kalau Changmin itu sahabatku. SAHABAT.” Kataku dengan penekanan di kata terakhirku..
Aku langsung berdiri.
“Ji Hye? Kau mau kemana? ”tanya Yunho oppa kaget.
“Aku ngantuk oppa. ini sudah sangat larut. Bangunkan aku jika appa datang.” Lalu aku pergi beranjak kekamar.
o0o
   “Pagi Changmin, kita berangkat bareng Yok. ” ajakku pada Changmin pagi ini.
“Pagi Hye-ie. Umm kau tak berangkat dengan Yoochun hyung?” tanya Changmin.
“Anu, hari ini dia tidak bisa mengantarku.” Kataku jujurr.
“Sebentar tunggu disini!” perintah Changmin padaku.
“Kau mau kemana Changmin???” tanyaku pada Changmin setengah berteriak.
“Aku mau bilang pada appa dan eomma untuk tidak mengantarku pagi ini!” balas Changmin dengan setengah berteriak juga.
“Tak usah Min, lebih bak kau bersama mereka. Biar aku minta antar Yunho oppa.” kataku.
Changmin berlari ke arahku.
“Jangan!” katanya sambil memegang tanganku erat.
“Tapi.”
“Kau ini. Kumohon jangan. Pergilah bersamaku Hye-ie”
Changmin lalu mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.
“Min berangkat sama Hye-ie  appa.”
“Mian appa lain kali saja.
“Ne appa.”
PLAAAAAKK
Tanganku mendarat di pipi Changmin dengan kerasnya. Changmin meringis kesakitan sambil mengelus pipinya dan menatapku heran.
“Hye-ie, apa yang kau lakukan?” tanyanya.
“Changmin pabo. PABO!” bentakku.
“Hye-ie aku ak mengerti apa maksudmu.” Kata Changmin yang mulai ketakutan.
“Changmin pabo! Bukankah appamu hanya datang satu bulan sekali? Dan besok dia sudah pergi keluar kota bukan? Kau selalu mengeluh karena itu. Tapi kau malah menyiakannya” emosiku meluap.
“Hye-ie dengarkan ak..”
“Sudah, aku kecewa padamu Changmin” aku membuang muka pada Changmin.
“Ya! Appaku pulang besok lusa, jadi masih ada hari esok.” Changmin menjelaskan dengan pelan. Jika aku dalam situasi seperti Changmin. Aku pasti akan marah-marah.
“Huh? Ji Hye??? Kau salah informasi. Kau bikin malu saja pabo pabo pabo”
Aku memandang Changmin cengengesan. Dan tersenyum lima jari.
“Maaf aku salah paham. Ayo kita pergi.”ajakku.
“Tapi maaf saja tidak cukup!” kata Changmin. Senyum jahil sudah terulas jelas di wajahnya.
“MWO? apa yang kau inginkan??” tanyaku dengan nada ‘shock banget’.
“Selama kita pergi sekolah dan pulang sekolah hari ini, kita harus bergandengan tanggan. Ah selama di sekolah juga termasuk jam pelajaran. Kita kan sebangku.” Changmin dengan riang mengucapkan permintaannya.
“...”
Aku menyanggupinya, tapi entah kenapa aku mematung. Changmin yang tadinya riang langsug tertunduk dan memasang muka sedih.
“Mianhe. Aku lupa kalau kau punya Calon Tunangan. Mian.” Katanya lirih.
“Ayo berangkat!” ajaknya.
Aku mengikuti langkahnya. Baru 10 langkah sudah ku pegang tangannya.
“HUM????” ia bergidik kaget.
“itu Permintaanmu kan? Aku menyanggupinya, lagi pula Yoochun oppa hanya calon. Itu bisa saja kubatalkan. Hanya saja aku...” aku terdian. Berat rasanya melanjutkannya.
“Lalu? Hanya saja kau?????” Changmin penasaran.
“Aku masih memiliki rasa dengannya. Aku juga bingung. Aku tak menyukainya tetapi aku tak rela putus hubungan dengannya. ” ucapku.
Changmin merenggangkan pegangan tangan kami.
“Changmin..”
“Kita punya jalan masing-masing kan? Aku tak mau kalian bertengkar hanya karena aku. Aku akan mendapatkan pacar. Aku akan mencoba untuk mencintai seseorang.” Kata Changmin dingin.
“Changmin... ”
Aku bahkan tak sanggup mendengar kata-kata itu. Dia ingin mencari pacar. Aku tak tau perasaan macam apa yang kumiliki. Aku pasti akan merasakan sakit jika kau memiliki pacar. Aku takut kau tak akan mengerjakan pr deganku lagi. Memberiku boneka disaat musim semi. Tak akan mengajakku ke taman lagi, dan mungkin semua itu justru akan kau berikan pada pacarmu kelak.
o0o
dikelas kami tak bergandengan tangan seperti rencana. Ia justru melirik seorang anak perempuan benama Ga Yoon.
Itukah targetmu Min? Aku senang kalau begitu. Kutau Ga Yoon anak yang manis dan pintar, penurut dan penyayang.
“Ji Hye.” Hah? Changmin? Kau tidak memanggilku dengan sebutan Hye-ie lagi? Dimana panggilan sahabatmu itu??
“Ya Ji Hye! Kau punya Nomer ponsel Ga Yoon?”
Aku mengangguk dan memberikan nomer ponsel Ga Yoon.
Seharusnya ia sangat senang. Yang ada dia malah sedih.
o0o
terdengar bunyi lagu DB5K ‘wrong number’ dari ponselku.
Kulirik siapa yang menelponku kali ini.
“Yoochun oppa”  gumamku setelah mengetahui yang menelponku adalah Yoochun oppa.
Aku segera mengangkat telponnya.


“Yobseo oppa.”
“Yobseo Chagiya~”
“Wae oppa?”
“Chagiya, hari ini kau kesekolah ya?”
“Ne, ada pelajaran tambahan.”
“Mwo? padahal ini hari minggu.. seharusnya kau menelponku. Agar aku mengantarmu.”
“Aku tak mau merepotkanmu oppa, setiap hari kau menjemputku, tak bosankah kau?”
“Mana pernah aku bosan denganmu chagiya~”
“Jinja?”
“Ne Chagiya. Oh ne, hari ini aku tak  bisa ke tropical land bersamamu.”
 “Oppa, kau mau pergi kemana? Kerumah eonnie Eun Ji?”
“tepat  sekali. Ternyata pacarku cukup pintar.”
“Baiklah oppa, terserah kau saja, kalau begitu aku mau main kerumah Minnie.”
Piip.
“huh, kau pikir aku tak bisa begitu Yoochun oppa”
Aku melangkangkan kakiku menuju rumah Changmin. Saat didepan pintu pagarnya segera kutekan bel rumahnya.
Yang kulihat appanya Changmin yang keluar.
“oh kau nak Ji Hye, Changmin sakit demam. Jadi ia tak bisa main denganmu hari ini.”
Kata appanya Changmin mengabarkan keadaan Changmin
“Jinja?”
Appanya Changmin mengangguk.
“Ahjushi. Bolehkah aku menjenguk Changmin?”
Appanya Changmin mengangguk lagi. Dan ia mengajakku ke kamar Changmin. Baru saja tubuhku ingin mencapai ambang pintu ...
“Changmin, ada temanmu Ji Hye” kata appa Changmin setengah berteriak.
Changmin memandangku dengan muka masam
“Aku tak mau dia disini appa.” Shut Changmin dingin.
=Changmin POV=
Terdengar suara langkah kaki yang makin membesar. Mungkin ada seseorang yang akan masuk kamarku.
“Changmin, ada temanmu Ji Hye” kudengar suara appa setengah berteriak.
Ah Ji Hye datang. Aku senang sekali disaat seperti ini ia mau menjengukku. Setahuku ia akan pergi bersama Yoochun hyung ke tropical land.
Tapi, aku malu padanya. Kenapa di saat ia adda aku malah sakit. Aku tak ingin terlihat lemah di matanya. Aku tak ingin terlihat lemah, tapi bangun dari kasur ini saja aku tak sanggup. Aku tak ingin melihat Ji Hye menangisiku seperti saat-saat sakitku biasanya. Itu sangat perih. Aku tak ingin melihatnya menangis jadi ....
“Aku tak mau dia disini appa.”
Aku terpaksa berucap begitu Ji Hye,. Aku tak ingin melihatku begini.
Kulihat  mata Hye-ie berkaca-kaca. Pastim sebentar lagi ia akan menangis.
Ia langsung pergi keluar tanpa pamit dengan appaku. Appaku mengejarnya.
Dan sekarang akulah yang meneteskan air mata. Ji Hye, aku tak bermaksud begitu. Aku harap kau tak akan salah paham.
                                                                        o0o
   hari ini aku kesekolah diantar appaku. Rasanya senang sekali. Sesampainya di sekolah aku mematung di depan pos satpam. Kenapa? Kenapa? Kenapa jantungku merasa sakit  saat melihat Ji Hye di antar  oleh Yoochun hyung.
Biasanya Ji Hye lagsung datang kearahku. Tetapi kali ini dia malah melewatiku.
Di kelaspun tak ada komunikasi di antara kami.
“Hye-ie” panggilku.
“Changmin, bisakah kau tidak mrmanggil namaku begitu. Telingaku sakit mendengarnya.” Bentak Hye-ie kasar padaku.
“Bukankah kau menyukai itu?” tanyaku.
Ji Hye sangat senang jika dipnggil begitu.
“Sekarang tidak aku tak mau dipanggil begitu olehmu.”
“Ji Hye. Kau kenapa?”
“Tidak apa. “
o0o
   saat pulang sekolah aku terus mengikuti langkah Ji hye. Aku sudah berjanji pada Yunho hyung agar terus menjaga Ji Hye.
“Ji Hye, aku pusing.”  Kataku memelas pada Ji Hye.
Ji Hhye terur melangkahkan kakinya tanpa menghiraukanku. Aku juga terus mensejajarkan langkahku.
“Ji Hye...” panggilku pada Ji Hye.
Ji Hye tiba-tiba membalikan badannya. Aku hampir tertabrak dengannya jika saja aku tidak menghentikan langkahku. Ia memasang muka dingin. Dingin sekali, sangat sulit aku menggambarkannya.
“Changmin”
Akhirnya ia membuka suara. Kau tau dengan begitu saja aku senang.
“Jangan mencari perhatianku saja.” Katanya den
“Ji Hye pabo!!! Kenapa kau berpikir seperti itu???? Changmin pasti hidup. Ia masih Hidup........”  gumamku smbil memukul-mukl keplaku.
Terdengar bunyi lagu Wrong number dari ponselku. Ah pasti Yoochun oppa yang menelponku. Dan ternyata itu benar setelah aku melihat ponselku. Aku segera saja mengangkatnya.
“Yobseo..”
 “Yobseo Chagiya~ Ungh.. kau dimana sekarang??”
“Aku... hei untuk apa kau mencariku??”
 “Kenapa? Tidak boleh ya?”
“Tentu ssaja tidak pabo! Ini kan jam sekolah.”
 “Kau Yang pabo Chagi....” suara Yoochun oppa kudengar sangat dingin.
“Hei.... kau”
“Bukankah ini sudah jam 6 sore. Bukankah sekolahmu sudah bubar pda jam 6:30 petang. Kau jangan bohong.”
PIIIP
Segera saja ku cabut baterai ponselku. Aku tak mau bicara padanya sekarang tidak untuk sekarang.

Next To Chap 2 , mian pendek and thank’s buat yang udah baca. Lain kali datang lagi ya di Chap 2
;) ;)